Mendengar kata “Semar” mungkin ingatan kita langsung menuju kepada salah satu tokoh dalam dunia pewayangan. Dalam dunia pewayangan khususnya yang dikenal ditanah Jawa, Semar selalu hadir pada saat “goro-goro” dimana ketika terjadi kerusuhan, keguncangan dan huru-hara Semar hadir dan menjadi tokoh penting yang bisa memberikan solusi yang bijak atas konflik yang terjadi antara Pandawa dan Kurawa. Semar dalam dunia pewayangan memiliki 3 orang anak yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Semar sendiri digambarkan sebagai seorang dewa yang menjelma menjadi seorang “abdi/pelayan/pembantu/penghibur” bagi seisi alam. Dimana dalam mitos dunia pewayangan Semar lahir dari telur yang menetas sendiri bersama dua makhluk tertua yaitu Batara Guru dan Togog. Oleh karenanya Semar sudah ada sebelum orang Jawa, sehingga Semar dipercaya melekat pada kehidupan orang Jawa sampai saat ini. Lalu apa hubungan antara Super Semar dan Semar Mesem itu sendiri? Sebenarnya tidak ada hubungan antara kedua kata yang memiliki arti yang sangat berbeda tersebut dengan cerita tentang tokoh Semar dalam dunia pewayangan. Saya hanya ini mengajak pembaca mengingat pada seorang Tokoh yang terkait dengan “Super Semar” dan “Semar Mesem”. Ya dialah Soeharto (alm), mantan orang nomor 1 (baca : Presiden) yang memimpin Indonesia selama hampir 32 tahun lebih. “Super Semar” telah menjadi sebuah “surat sakti” bagi Soeharto yang pada akhirnya menghantarkan menjadi orang nomor 1 (baca : Presiden) di Republik ini menggantikan Soekarno. “Super Semar” menjadi sangat “ampuh” pada zamannya, seperti ampuhnya mitos kentut Semar di dunia pewayangan yang bisa mengguncangkan kemapanan para dewa. Begitu hebatnya “Super Semar” dalam sejarah Republik ini serta “Kentut Semar” dalam jagad pewayangan, semua dimiliki oleh “Sang Semar” Lalu apa hubungannya dengan “Semar Mesem”?. Semar Mesem lebih dikenal sebagai suatu ajian pengasihan yang digunakan untuk memikat pihak “lawan” (sejenis atau lain jenis). Dengan ajian Semar Mesem, yang arti dalam Bahasa Indonesia Semar Senyum, maka diharapkan orang disekitar kita akan senang kepada kita. Mungkin ini ada kaitannya dengan sikap mesem atau tersenyum, dimana orang yang tersenyum tentunya lebih enak dipandang mata ketimbang orang yang tidak tersenyum (cemberut). Nah demikian pula dengan Soeharto yang memiliki sebutan The Smiling General. Seorang Jendral dan Pemimpin Bangsa yang selalu tersenyum pada hampir setiap kesempatan. Hampir tidak pernah Sang Jenderal Besar ini terlihat tidak senyum disekeliling rakyatnya, Beliau always dan forever dengan senyumnya, walau kita tidak tahu sejuta makna dibalik senyum tersebut, apakah sebuah kebahagian atau kesedihan?. Akhirnya Super Semar dan Semar Mesem, tinggal menjadi menjadi sebuah cerita dalam kehidupan ditanah jagad yang maha luas ini, bak seperti sebuah cerita perjalanan hidup panjang dari The Smiling General yang tercatat dalam sebuah sejarah bangsa. Jakarta, 11 Maret 2008 – 01:15 AM