‘School of Sorrow’ kata itu mungkin terdengar asing ditelinga kita. Bahkan kita mungkin mencari dimana lokasi dari ‘School of Sorrow’ itu? ‘School of Sorrow’ atau dapat diartikan Sekolah Keprihatinan (Baca : Belajar Prihatin). Kata itu saya dengar dari seorang entertain yang bisa dibilang telah ‘sukses’ menjadi seorang entertain di Indonesia. Dia adalah Helmy Yahya, siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini, sederet kreasi telah dibuatnya, sejumlah prestasi telah diraihnya hingga berbuah kesuksesan seperti sekarang ini. Tapi tahukah anda bahwa dibalik kesuksesan yang diraihnya itu tersimpan segudang cerita tentang keprihatinan? Keprihatinan yang diawali dari orang tua Helmy yang mendambakan anaknya hidup lebih bahagia dan sukses meraih cita-cita. Semua dikorbankan demi sang anak, pun juga demikian bagi sang anak, dengan motivasi yang kuat untuk meraih cita-cita, semua rela dikerjakan atau dilakoni tanpa patah semangat, tabah dan tawakal. Kristalisasi keringat (kalo boleh meminjam istilah Mas Tukul Arwana) dari sebuah perjalanan panjang menuju sebuah kesuksesan memang itu yang harus dilakukan, bahkan cucuran air mata terkadang menjadi satu ‘pecutan’ untuk lebih maju, untuk bercermin diri, untuk menutup segala kekurangan demi meraih sebuah kesempurnaan, walau kesempurnaan didunia tak kan ada yang abadi. Belajar dari keprihatinan membuat diri menjadi lebih tegar menjalani sebuah perjalanan kehidupan. Keprihatinan mengajak kita berfikir lebih untuk segala hal, keprihatian mendidik kita menjadi dewasa, keprihatinan mengasah empati kita terhadap orang disekeling kita, keprihatinan membuat kita belajar menghargai sebuah proses, entah sekecil apapun proses itu. Keprihatinan akan berbuah manis ketika kita menengok kembali lembaran masa lalu setelah kita berhasil melewatinya, karena kesuksesan bukan sebuah hasil, kesuksesan adalah sebuah proses, dan bagian dari proses itu adalah sebuah keprihatinan, maka tidak salah kalau kita belajar dari keprihatinan, ‘School of Sorrow’ begitulah bunyinya…..